ISIS Kembali Bangkit di Suriah: Amerika Serikat Kerahkan Pasukan dan Lancarkan Serangan Udara

ISIS Kembali Bangkit di Suriah: Amerika Serikat Kerahkan Pasukan dan Lancarkan Serangan Udara
ISIS Kembali Bangkit di Suriah: Amerika Serikat Kerahkan Pasukan dan Lancarkan Serangan Udara

sneakattackmedia.com,12 MEI 2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Editor: Muhammad Kadafi
Tim Redaksi: Diplomasi Internasional Perusahaan Victory88

April 2025

Komandan Pasukan Kurdi: ISIS Bangkit di Suriah Timur
Di tengah situasi politik dan keamanan yang masih rapuh di Suriah, kelompok militan ISIS (Negara Islam Irak dan Suriah) kembali menunjukkan aktivitas yang meningkat. Kebangkitan ini tidak hanya menimbulkan kekhawatiran di kawasan Timur Tengah, tetapi juga mendorong Amerika Serikat untuk kembali memperkuat kehadiran militernya dan mengintensifkan operasi kontra-terorisme di wilayah tersebut.


Latar Belakang: Kebangkitan ISIS Pasca-Kekalahan Teritorial

Dilaporkan Bangkit Lagi, ISIS Kembali Tebar Ancaman

ISIS pernah menguasai wilayah seluas negara bagian di Suriah dan Irak pada puncak kejayaannya pada tahun 2014–2015. Namun, melalui operasi militer besar-besaran oleh koalisi internasional, kelompok ini kehilangan kendali atas hampir seluruh wilayahnya pada tahun 2019.

Kendati demikian, para analis keamanan telah lama memperingatkan bahwa kekalahan teritorial tidak berarti berakhirnya ISIS. Struktur bawah tanah kelompok ini, termasuk jaringan logistik, media propaganda, dan sel-sel tidur, tetap aktif. Kini, mereka memanfaatkan kekosongan kekuasaan dan konflik internal Suriah untuk bangkit kembali.


Amerika Serikat Meningkatkan Kehadiran Militer

ISIS 'berusaha bangkit' di Irak: 'Mereka memiliki teknik dan taktik lebih  baik, dan uang lebih banyak' - BBC News Indonesia

Merespons situasi tersebut, pada akhir 2024, Departemen Pertahanan AS mengumumkan bahwa jumlah pasukan Amerika di Suriah akan meningkat dari sekitar 900 menjadi 2.000 personel. Ini merupakan peningkatan signifikan yang menandakan perubahan strategi dari sekadar penahanan terhadap ancaman, menjadi pendekatan ofensif dan preventif.

Tujuan Penambahan Pasukan:

  • Memperkuat patroli keamanan di kawasan gurun timur Suriah yang menjadi basis persembunyian ISIS.

  • Mendukung operasi intelijen dan pengintaian terhadap jaringan militan.

  • Melatih dan memperkuat kapasitas pasukan lokal, seperti Pasukan Demokratik Suriah (SDF), yang selama ini menjadi mitra utama koalisi internasional dalam memerangi ISIS.

Pasukan ini tidak beroperasi dalam skema konvensional tempur, melainkan dalam kerangka misi kontra-terorisme yang sangat spesifik, mengandalkan intelijen, teknologi canggih, serta operasi mobil tinggi.


Serangan Udara Intensif: Tekan Kekuatan ISIS

ISIS Bom Bus Militer Suriah, 14 Tentara Tewas

Seiring dengan pengerahan pasukan, Amerika Serikat juga melancarkan lebih dari 75 serangan udara presisi tinggi selama kuartal terakhir 2024. Serangan ini menyasar:

  • Pemimpin senior ISIS

  • Operator logistik

  • Kamp pelatihan dan tempat persembunyian

  • Fasilitas penyimpanan senjata dan bahan peledak

Wilayah yang paling sering menjadi target adalah gurun Badiya (Suriah tengah), serta area di sekitar Deir ez-Zor dan Raqqa—bekas ibu kota “kekhalifahan” ISIS. Pentagon mengklaim bahwa serangan ini berhasil melumpuhkan sejumlah figur penting dalam jaringan ISIS, meski nama-nama spesifik belum diumumkan secara publik demi alasan keamanan operasional.


Kekhawatiran Bangkitnya “Pejuang Lama” dan Sel Tidur

Polisi: 5 Terduga Teroris di Aceh Ingin Bergabung ISIS

Salah satu aspek yang paling mengkhawatirkan dari situasi ini adalah kemungkinan kembalinya para “pejuang lama”—anggota dan komandan ISIS yang sebelumnya berhasil melarikan diri atau bersembunyi. Beberapa laporan menyebut bahwa individu-individu ini kini kembali aktif dan berperan dalam mengorganisir serangan gerilya, perekrutan, dan pelatihan militan baru.

Faktor-faktor yang Mendukung Kebangkitan ISIS:

  1. Kekosongan kekuasaan lokal, terutama di wilayah yang lepas dari kontrol pemerintah Suriah.

  2. Konflik antar kelompok milisi lokal, yang menyebabkan ketidakstabilan berkepanjangan.

  3. Kondisi sosial ekonomi buruk yang mendorong sebagian masyarakat untuk bergabung dengan kelompok radikal.

  4. Kurangnya koordinasi internasional, menyusul berkurangnya perhatian global terhadap konflik Suriah.


Pernyataan dan Sikap Pemerintah AS

Terlibat terorisme ISIS, 5 WNI jamaah Ansharut Daulah diadili di Amerika  Serikat - Hops ID

Menteri Luar Negeri AS, Antony Blinken, dalam pernyataan resminya di Washington, menegaskan bahwa Amerika Serikat akan tidak memberikan ruang sedikit pun bagi ISIS untuk kembali membentuk kekuatan. Ia menyatakan bahwa kebangkitan kelompok teroris ini bukan hanya ancaman regional, tetapi juga global.

“Kami tidak akan membiarkan ISIS menciptakan tempat aman untuk berkembang. Kami berkomitmen menjaga keamanan personel kami dan mendukung mitra lokal dalam membangun stabilitas jangka panjang di Suriah dan sekitarnya.” – Antony Blinken


Konstelasi Geopolitik dan Tantangan Operasional

Pentagon: ISIS Siap Bangkit Lagi?

Langkah Amerika Serikat di Suriah tentu tidak berada dalam ruang hampa. Wilayah ini saat ini merupakan medan persaingan antara berbagai kekuatan:

  • Rusia mendukung rezim Presiden Bashar al-Assad dan memiliki pangkalan militer besar di Suriah.

  • Iran melalui milisi proksi seperti Hizbullah turut beroperasi di lapangan dan berkonflik dengan kepentingan AS.

  • Turki memusuhi pasukan Kurdi yang didukung AS, dan memiliki operasi militer sendiri di utara Suriah.

Kehadiran pasukan AS di Suriah berada dalam risiko terus-menerus, baik dari ISIS maupun dari potensi konflik tidak langsung dengan aktor-aktor lain di kawasan. Belum lagi tekanan politik domestik di Amerika yang mempertanyakan alasan di balik keterlibatan militer jangka panjang.


Penutup: Tantangan Global dalam Perang Melawan Terorisme

Kebangkitan ISIS di Suriah menjadi pengingat bahwa ancaman terorisme bersifat dinamis. Kekalahan dalam medan perang tidak serta merta menghapus ideologi dan jaringan sosial yang menopangnya. Untuk itu, langkah Amerika Serikat yang menggabungkan kekuatan militer, kerja sama internasional, dan dukungan terhadap stabilitas politik lokal menjadi sangat krusial.

Namun, keberhasilan upaya ini akan sangat bergantung pada:

  • Konsistensi strategi jangka panjang

  • Kemampuan membangun mitra lokal yang efektif

  • Upaya diplomatik untuk menghindari konflik dengan kekuatan lain di wilayah tersebut

Tanpa ketiga hal tersebut, kebangkitan ISIS berisiko menjadi lebih dari sekadar gangguan, tetapi ancaman besar yang bisa menyebar ke luar wilayah Suriah dan mengganggu stabilitas global.

BACA JUGA: Kisah Pilu 57.000 Pasukan Nazi Jerman yang Dikalahkan dan Diarak Sepanjang Kota Moskow

BACA JUGA: 🕌 Kisah Lengkap Nabi Harun AS Sang Nabi yang Lembut, Fasih, dan Setia Mendampingi Nabi Musa AS

BACA JUGA: Pentingnya Komunikasi Asertif (Karena Kita Gak Bisa Baca Pikiran Orang Lain)

Related Post