Daftar Isi
Togglesneakattackmedia.com 09-03-2025
Penulis: Riyan Wicaksono
Pada akhir Perang Dunia II, dunia mengalami perubahan geopolitik yang sangat besar, yang memengaruhi banyak wilayah di dunia, termasuk Semenanjung Korea. Sebelumnya dijajah oleh Jepang selama lebih dari tiga dekade, Korea bebas dari penjajahan Jepang pada tahun 1945 setelah kekalahan Jepang dalam perang. Namun, situasi politik pasca-perang di Korea menjadi sangat rumit dan memunculkan pembagian negara yang hingga kini masih terasa dampaknya, dengan Korea Utara dan Korea Selatan menjadi dua negara yang terpisah dengan ideologi yang sangat berbeda.
Salah satu faktor penting dalam pembentukan Korea Utara adalah peran yang dimainkan oleh Uni Soviet. Uni Soviet tidak hanya memberikan bantuan militer dan politik, tetapi juga memainkan peran penting dalam menetapkan ideologi yang akan membentuk masa depan negara tersebut. Artikel ini akan mengulas secara detail bagaimana Uni Soviet terlibat dalam pembentukan Korea Utara dan dampak jangka panjang dari keterlibatannya.
1. Latar Belakang Sejarah Korea Sebelum Perang Dunia II

Sebelum membahas bagaimana Uni Soviet terlibat dalam Korea Utara, penting untuk memahami konteks sejarah Korea pada masa sebelum dan sesudah Perang Dunia II. Korea, yang berada di bawah kekuasaan Jepang sejak 1910, mengalami masa penjajahan yang panjang dan penuh penderitaan. Selama periode ini, Jepang tidak hanya mengendalikan aspek politik dan ekonomi Korea, tetapi juga berusaha keras untuk menghapuskan identitas budaya dan bahasa Korea, menggantinya dengan budaya Jepang.
Pada akhir Perang Dunia II, Jepang yang merupakan bagian dari negara-negara Poros, mengalami kekalahan besar. Dengan kekalahan Jepang pada tahun 1945, wilayah-wilayah yang sebelumnya dikuasai oleh Jepang, termasuk Korea, dibebaskan oleh negara-negara Sekutu. Namun, dengan kekosongan kekuasaan yang ditinggalkan oleh Jepang, dunia harus menghadapi tantangan baru dalam menata ulang struktur politik dan pemerintahan di wilayah tersebut.
2. Pembagian Wilayah Korea dan Pendudukan oleh Sekutu

Setelah kekalahan Jepang pada Agustus 1945, Korea dibebaskan, namun situasi politik di Semenanjung Korea menjadi sangat tidak stabil. Untuk menghindari kekacauan, Sekutu memutuskan untuk membagi wilayah Korea menjadi dua zona pendudukan sementara sepanjang garis paralel ke-38, yang terletak di tengah Semenanjung Korea. Pembagian ini dilakukan tanpa mempertimbangkan batas-batas etnis atau budaya, tetapi lebih sebagai keputusan taktis yang diambil oleh negara-negara besar yang terlibat dalam perang, yaitu Uni Soviet dan Amerika Serikat.
Uni Soviet menguasai wilayah di utara garis paralel ke-38, sementara pasukan Amerika Serikat menguasai wilayah di selatan. Pembagian ini bukanlah suatu keputusan permanen, namun justru menjadi dasar bagi perpecahan yang lebih besar dalam jangka panjang. Pasukan Soviet yang memasuki wilayah Korea utara pada 1945 bertugas untuk menggantikan pemerintahan Jepang dan mulai membentuk struktur pemerintahan yang sesuai dengan ideologi mereka, yaitu komunisme.
3. Pengaruh Uni Soviet dan Pembentukan Pemerintahan Komunis

Setelah pasukan Soviet tiba di wilayah Korea utara, mereka mulai mengatur pemerintahan sementara. Pada awalnya, Soviet berfokus pada pengamanan wilayah dan memulai program-program ekonomi dan sosial yang lebih dekat dengan sistem Marxisme-Leninisme. Di bawah pengaruh Soviet, berbagai kebijakan sosial yang mendukung ekonomi terencana dan pemerintahan otoriter mulai diterapkan. Tujuan utama Uni Soviet adalah untuk memastikan bahwa Korea Utara menjadi negara komunis yang stabil dan setia kepada mereka.
BACA JUGA: 7 Penyebab Terjadinya Bentrok antara Korea Selatan dan Korea Utara
BACA JUGA: Perekonomian No. 1 Korea Selatan: Pendekatan, Tantangan, dan Strategi Pengelolaannya
TONTON JUGA VIDEO DI BAWAH

Stalin, yang pada waktu itu memimpin Uni Soviet, sangat mendukung Kim Il-sung. Stalin melihat Kim sebagai sosok yang bisa memastikan bahwa Korea Utara akan tetap berada dalam orbit pengaruh Soviet. Sebagai bagian dari dukungannya terhadap Kim Il-sung, Uni Soviet memberikan pelatihan militer, pembentukan struktur pemerintahan, dan berbagai bantuan dalam hal pengorganisasian politik. Dengan bantuan ini, Kim Il-sung mampu memperkuat posisinya dan menyingkirkan pesaing politik yang ada.
4. Pembentukan Negara Korea Utara dan Pemilihan Kim Il-sung sebagai Pemimpin
Pada 9 September 1948, setelah serangkaian langkah politik yang disusun oleh Uni Soviet, Korea Utara secara resmi mendeklarasikan diri sebagai Republik Demokratik Rakyat Korea (RDRK). Pembentukan negara ini didasarkan pada sebuah pemilihan umum yang diawasi oleh pasukan Soviet. Kim Il-sung, yang mendapatkan dukungan penuh dari Uni Soviet, diangkat sebagai pemimpin pertama negara tersebut. Dengan demikian, Kim Il-sung menjadi penguasa Korea Utara yang pertama dalam sistem pemerintahan yang sangat terpusat dan komunis.
Namun, meskipun Kim Il-sung telah diangkat sebagai pemimpin, proses pembentukan negara ini tidak berjalan mulus. Di bawah pengaruh Soviet, Korea Utara menghadapi proses pembersihan politik yang keras. Banyak lawan politik yang dianggap mengancam posisi Kim Il-sung di dalam Partai Buruh Korea dihilangkan atau diasingkan. Langkah ini juga diikuti dengan penguatan kebijakan otoriter yang dipimpin oleh Kim Il-sung, yang mulai mengkonsolidasikan kekuasaannya melalui penggunaan kekuatan militer dan pengaruh ideologi.
Soviet terus mendukung pemerintahan Kim Il-sung, meskipun pada 1948 pasukan Soviet akhirnya menarik diri dari Korea Utara. Namun, pengaruh mereka tetap bertahan dalam kebijakan luar negeri dan ideologi yang diterapkan oleh negara baru ini.
5. Perang Korea dan Pengaruh Soviet di Seluruh Dunia
Ketegangan yang dihasilkan dari pembagian Korea semakin membesar pada akhir 1940-an dan awal 1950-an. Di selatan, Korea Selatan yang didukung oleh Amerika Serikat membentuk sistem pemerintahan kapitalis dan demokratis, sementara di utara, Korea Utara di bawah Kim Il-sung tetap setia pada sistem komunis. Kedua negara ini memiliki sistem pemerintahan yang sangat berbeda, dan ketegangan antara keduanya segera memunculkan konflik bersenjata.

Pada 25 Juni 1950, Korea Utara melancarkan invasi ke Korea Selatan, yang memicu dimulainya Perang Korea. Uni Soviet dan China mendukung Korea Utara, sementara Amerika Serikat dan pasukan Sekutu mendukung Korea Selatan. Perang ini berakhir dengan gencatan senjata pada tahun 1953, yang membagi kedua negara di sepanjang garis paralel ke-38 dan mempertegas pembagian yang sudah ada sebelumnya.
Meskipun Uni Soviet tidak secara langsung terlibat dalam Perang Korea, mereka memberikan dukungan penting berupa senjata, peralatan militer, dan pelatihan kepada Korea Utara. Uni Soviet juga terus menjadi mitra strategis utama bagi Korea Utara dalam konteks Perang Dingin, ketika kedua negara ini menjadi bagian dari blok komunis yang dipimpin oleh Soviet. Selama bertahun-tahun, hubungan antara Korea Utara dan Uni Soviet terus terjalin erat, meskipun ada ketegangan yang muncul setelah kematian Stalin pada 1953 dan perubahan kebijakan di Uni Soviet.
6. Warisan Uni Soviet di Korea Utara
Meskipun Uni Soviet runtuh pada tahun 1991, warisan yang ditinggalkan oleh Uni Soviet masih terasa sangat kuat di Korea Utara hingga saat ini. Sistem pemerintahan yang sangat terpusat, otoriter, dan komunis yang dibangun oleh Kim Il-sung sangat dipengaruhi oleh ajaran Marxisme-Leninisme yang diajarkan oleh Soviet. Kim Il-sung sendiri menjadi tokoh yang sangat dihormati di Korea Utara, dan kultus individu yang dibangun di sekitar dirinya masih menjadi bagian integral dari ideologi negara tersebut.

Meskipun hubungan antara Korea Utara dan Rusia, pengganti Uni Soviet, mengalami perubahan setelah runtuhnya Soviet, warisan ideologis dan kebijakan politik yang ditanamkan selama periode pendudukan Soviet tetap menjadi landasan bagi struktur sosial, politik, dan ekonomi negara tersebut. Kebijakan luar negeri Korea Utara yang sangat bergantung pada isolasi diri dan ketergantungannya pada kekuatan besar seperti Rusia dan China merupakan warisan dari periode awal sejarah negara ini yang dibentuk oleh Uni Soviet.
Uni Soviet memainkan peran yang sangat penting dalam pembentukan negara Korea Utara setelah Perang Dunia II. Dengan mendukung Kim Il-sung dan partai komunis di wilayah Korea utara, Soviet memastikan bahwa negara tersebut akan tetap berada di bawah pengaruh komunis. Pembagian Korea dan pendirian dua negara yang sangat berbeda, yaitu Korea Utara yang komunis dan Korea Selatan yang kapitalis, membentuk dasar bagi ketegangan yang masih berlangsung hingga hari ini. Warisan ideologi yang ditanamkan oleh Uni Soviet masih sangat terasa di Korea Utara, dan sistem pemerintahan yang dibangun oleh Kim Il-sung tetap dipertahankan oleh generasi penerusnya hingga saat ini.
