Jeli Herbal Cina Kura-Kura atau Guilinggao: Terbuat dari Apa dan Benarkah Berkhasiat?

guilinggao

sneakattackmedia – Pernah melihat sebuah jeli berwarna hitam kecokelatan di restoran atau toko herbal Cina lalu bertanya, “Ini jelly apa, kok namanya ada kura-kuranya?”

Kalau pernah, kemungkinan besar yang sedang kamu lihat adalah guilinggao.

Namanya memang agak bikin kaget.

Apalagi kalau diterjemahkan ke bahasa Inggris menjadi turtle jelly atau tortoise jelly. Bayangan pertama yang muncul mungkin langsung sebuah jeli berbentuk kura-kura lucu seperti permen gummy.

Faktanya bukan begitu.

Guilinggao merupakan makanan herbal tradisional dari Cina selatan yang tampilannya lebih mirip cincau hitam atau pudding herbal. Warnanya gelap, teksturnya lembut dan kenyal, sedangkan rasanya cenderung pahit dengan aroma herbal yang cukup kuat.

Bagian “kura-kura” pada namanya justru mempunyai cerita panjang.

Dalam resep tradisional, bagian cangkang bawah atau plastron kura-kura memang digunakan sebagai salah satu bahan bersama berbagai tanaman herbal.

Jadi bukan karena jelinya dicetak menyerupai kura-kura.

Dan di sinilah cerita jeli herbal Cina kura-kura mulai jauh lebih menarik daripada sekadar dessert hitam di dalam mangkuk.

Apa Itu Jeli Herbal Cina Kura-Kura?

Nama aslinya adalah 龟苓膏, dibaca guī líng gāo atau biasa ditulis guilinggao.

Secara sederhana, makanan ini merupakan olahan herbal yang dimasak hingga menghasilkan tekstur seperti jelly atau pudding.

Guilinggao sangat identik dengan Cina bagian selatan, khususnya kawasan Guangxi dan Guangdong.

Pemerintah Guangxi menyebut Wuzhou sebagai salah satu tempat yang sangat erat dengan sejarah dan perkembangan guilinggao. Produk ini bahkan menjadi makanan khas daerah dan telah berkembang menjadi produk komersial yang dijual dalam kemasan siap makan.

Kalau pernah makan cincau hitam, penampilan pertama guilinggao mungkin terasa familiar.

Tetapi begitu sendok pertama masuk ke mulut, ceritanya berubah.

Guilinggao tradisional mempunyai rasa herbal yang jauh lebih kuat.

Ada pahitnya.

Ada aroma tanaman obat.

Dan kalau dimakan tanpa madu, gula, susu, atau sirup, orang yang baru pertama mencobanya mungkin langsung memasang ekspresi bingung.

“Ini dessert atau obat?”

Jawabannya: dalam sejarah kuliner Cina, garis antara keduanya memang tidak selalu tegas.

Guilinggao berkembang sebagai bagian dari tradisi medicinal food atau makanan yang dikonsumsi sekaligus berdasarkan konsep pengobatan tradisional.

Kenapa Namanya Ada Kura-Kura?

Nah, ini pertanyaan paling menarik.

Karakter pertama dalam guilinggao, 龟 atau gui, merujuk pada kura-kura.

Resep tradisional guilinggao menggunakan bagian cangkang bawah kura-kura yang dalam literatur berbahasa Inggris sering disebut turtle plastron atau tortoise shell.

Bagian tersebut kemudian direbus atau diolah bersama sejumlah bahan herbal.

Salah satu bahan tanaman yang sangat penting adalah Smilax glabra, yang dalam pengobatan tradisional Cina dikenal sebagai tu fu ling.

Dari kombinasi tersebut kemudian terbentuk nama guilinggao.

Jadi ketika orang mengatakan “turtle jelly”, itu bukan semata-mata nama marketing supaya terdengar eksotis.

Memang ada akar sejarah penggunaan bahan yang berasal dari kura-kura.

Tapi Apakah Semua Guilinggao Sekarang Mengandung Kura-Kura?

Belum tentu.

Ini justru bagian yang sering membuat orang salah paham.

Formula guilinggao berbeda-beda tergantung produsen, daerah, dan jenis produknya.

Produk tradisional tertentu masih dapat menggunakan bahan yang berasal dari kura-kura. Sementara produk komersial modern bisa menggunakan formula yang berbeda, termasuk komposisi herbal dan bahan pembentuk gel yang lebih praktis.

Sebuah penelitian mengenai kandungan kimia dalam berbagai produk turtle jelly juga menemukan variasi yang cukup besar antarproduk.

Peneliti memeriksa astilbin dan taxifolin yang berasal dari Rhizoma Smilacis Glabrae. Hasilnya, kadar kedua senyawa tersebut berbeda cukup signifikan antara merek, bahkan ada produk yang tidak menunjukkan keberadaan senyawa tersebut.

Artinya, kata “guilinggao” pada kemasan belum tentu berarti seluruh produk mempunyai formula identik.

Kalau alasanmu bertanya adalah karena vegetarian, vegan, alergi, keyakinan tertentu, atau alasan lingkungan, cara paling aman bukan menebak dari nama produknya.

Lihat daftar bahannya.

Guilinggao Tradisional Terbuat dari Apa?

Resepnya ternyata lumayan kompleks.

Dokumentasi dari pemerintah Guangxi menggambarkan guilinggao khas Wuzhou menggunakan kura-kura bersama tu fu ling dan berbagai bahan herbal seperti honeysuckle, dandelion, licorice, angelica, dan tanaman lain.

Sementara dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Cina menyebut formula Wuzhou dapat mencakup bahan seperti kura-kura, tu fu ling, rehmannia, Mesona, luo han guo, lingzhi, sanqi, dandelion, gardenia, honeysuckle, licorice, serta chrysanthemum.

Daftarnya panjang.

Tetapi sekali lagi, tidak berarti setiap cup guilinggao yang dijual di supermarket mempunyai seluruh bahan tersebut.

Resep tradisional pun dapat berbeda.

Formula komersial biasanya menyesuaikan rasa, biaya produksi, ketersediaan bahan, tekstur, serta standar industrinya masing-masing.

Inilah mengapa guilinggao lebih tepat dipahami sebagai sebuah kategori makanan herbal tradisional daripada satu resep universal yang tidak pernah berubah.

Kok Bisa Berubah Menjadi Jelly?

Kalau membayangkan cangkang kura-kura dan akar herbal direbus, pertanyaan berikutnya cukup masuk akal.

Kok akhirnya bisa menjadi jelly?

Dalam proses tradisional, bahan-bahan herbal direbus dan diekstrak dalam waktu lama.

Kemudian terdapat bahan seperti Mesona chinensis atau tanaman pembentuk herbal jelly dan bahan pengental lain yang membantu menghasilkan tekstur gel setelah cairan mendingin.

Hasil akhirnya adalah makanan berwarna cokelat sangat gelap hingga nyaris hitam.

Teksturnya kenyal tetapi tidak seperti gummy candy.

Lebih dekat ke pudding padat atau cincau.

Guilinggao biasanya disimpan dingin dan disajikan dalam bentuk potongan atau langsung dalam sebuah mangkuk kecil.

Rasanya Seperti Apa?

Di sinilah guilinggao mulai memecah opini.

Kalau berharap rasanya seperti jelly rasa anggur, stroberi, atau mangga, kemungkinan besar bakal sedikit terkejut.

Guilinggao tradisional cenderung pahit.

Ada rasa earthy.

Ada sedikit sensasi seperti minuman herbal.

Bagi orang yang sudah terbiasa dengan minuman herbal Cina, rasanya mungkin bukan sesuatu yang aneh.

Bagi pemula, sendok pertama bisa terasa seperti masuk ke toko obat tradisional dalam bentuk dessert.

Karena itulah guilinggao sangat sering disajikan bersama madu atau sirup.

Di Wuzhou, variasi modern bahkan disajikan dengan susu, yogurt, kacang merah, santan, buah, keju, sampai es krim.

Perubahan tersebut membuat guilinggao yang dulunya sangat identik dengan makanan herbal sekarang juga punya kehidupan baru sebagai dessert kekinian.

Bayangkan cincau bertemu herbal Cina lalu dikasih susu dan madu.

Kurang lebih seperti itu vibe-nya.

Dari Obat Tradisional Menjadi Dessert Kekinian

Guilinggao punya perjalanan budaya yang unik.

Awalnya makanan ini erat dengan konsep pengobatan tradisional dan medicinal diet.

Dalam tradisi setempat, guilinggao dipercaya membantu mengatasi konsep yang dalam pengobatan Cina disebut “panas” dan “lembap” dalam tubuh.

Namun ketika produknya mulai diproduksi secara industri, citranya ikut berubah.

Pemerintah Guangxi mencatat industrialisasi guilinggao di Wuzhou mulai berkembang pada akhir 1970-an.

Kemudian pada 1993 muncul guilinggao dalam kemasan kaleng.

Dari sana formatnya semakin praktis.

Tidak lagi harus pergi ke kedai herbal.

Tinggal buka kemasan lalu makan.

Lambat laun guilinggao masuk supermarket, toko makanan Asia, kedai dessert, sampai pasar luar Cina.

Jadi kalau sekarang melihatnya berdampingan dengan pudding, cincau, atau jelly kemasan, jangan heran.

Makanan tradisional ini memang sudah mengalami transformasi.

Benarkah Guilinggao Bisa “Mendinginkan” Tubuh?

Kalau bertanya kepada orang yang tumbuh dengan tradisi Cina, salah satu jawaban yang mungkin terdengar adalah guilinggao digunakan untuk “mengurangi panas”.

Konsep ini berasal dari Traditional Chinese Medicine atau TCM.

Perlu dipahami bahwa istilah “panas” dalam konteks TCM tidak sama dengan demam atau suhu tubuh tinggi yang diukur memakai termometer.

Ia merupakan bagian dari sistem konseptual pengobatan tradisional Cina.

Sumber pemerintah Cina dan dokumentasi warisan budaya memang mencatat guilinggao secara tradisional digunakan untuk konsep seperti clearing heat, mengurangi kelembapan, dan berbagai tujuan kesehatan lainnya.

Namun klaim tradisional tidak otomatis sama dengan manfaat yang sudah terbukti melalui uji klinis modern.

Ini penting.

Karena internet sering melakukan lompatan logika.

Sebuah makanan digunakan selama ratusan tahun, kemudian langsung disebut “terbukti detoks”, “membersihkan darah”, atau “menyembuhkan jerawat”.

Padahal kualitas bukti ilmiahnya bisa jauh berbeda.

Bagaimana dengan Klaim Antiinflamasi?

Nah, ada penelitian yang cukup menarik mengenai hal ini.

Sebuah studi yang diterbitkan di Journal of Functional Foods meneliti efek guilinggao terhadap respons inflamasi.

Peneliti menemukan efek antiinflamasi melalui penurunan ekspresi sejumlah mediator inflamasi dalam sel limpa tikus.

Terdengar menjanjikan.

Tetapi kalimat terakhir sangat penting: sel limpa tikus.

Itu bukan uji klinis terhadap manusia yang makan semangkuk guilinggao setelah makan siang.

Jadi penelitian tersebut bisa menjadi dasar untuk penelitian lanjutan, tetapi belum cukup untuk mengatakan guilinggao terbukti mengobati penyakit inflamasi pada manusia.

Inilah bedanya “ada penelitian” dengan “sudah terbukti secara klinis”.

Dua kalimat yang sering diperlakukan sama di media sosial, padahal maknanya sangat berbeda.

Apakah Jeli Kura-Kura Bisa Menurunkan Kolesterol?

Klaim lain yang pernah diteliti adalah efek terhadap profil lipid.

Sebuah review mengenai herbal Cina dengan efek hipolipidemik membahas penelitian turtle jelly pada tikus yang mengalami hiperkolesterolemia akibat diet.

Pada penelitian tersebut terlihat perubahan pada kolesterol total, LDL, HDL, serta beberapa indikator lainnya.

Sekali lagi, objek penelitiannya adalah hewan.

Bukan pasien manusia dengan kolesterol tinggi.

Jadi guilinggao tidak semestinya diposisikan sebagai pengganti statin atau terapi kolesterol yang diresepkan dokter.

Kalau seseorang mempunyai LDL tinggi, penyakit jantung, diabetes, atau kondisi metabolik lainnya, makan guilinggao tidak menggantikan pemeriksaan dan pengobatan medis.

Dessert herbal tetap dessert herbal.

Benarkah Guilinggao Bagus untuk Kulit?

Nah, ini klaim yang sering bikin produk herbal langsung viral.

Dalam penggunaan tradisional, guilinggao memang kerap dikaitkan dengan kesehatan kulit, jerawat, hingga konsep “detoks”.

Sumber tradisional Cina juga mencatat klaim seperti beautifying atau mendukung penampilan kulit.

Tetapi bukti klinis modern terhadap manusia masih terbatas.

Tidak ada alasan ilmiah yang cukup untuk menjanjikan bahwa rutin makan guilinggao otomatis membuat jerawat hilang, wajah putih, atau kulit menjadi glowing.

Kulit jauh lebih kompleks.

Jerawat saja bisa dipengaruhi hormon, produksi sebum, inflamasi, bakteri, penggunaan kosmetik, obat, dan banyak faktor lainnya.

Kalau jerawat berat kemudian hanya diberi jelly herbal setiap malam, akar masalahnya bisa tidak tertangani.

Makan karena suka boleh.

Menganggapnya obat kulit universal? Ceritanya berbeda.

Apakah Guilinggao Termasuk “Detox Food”?

Kata detox memang punya kekuatan marketing luar biasa.

Begitu sebuah makanan terasa pahit dan berbau herbal, entah kenapa label “membersihkan racun” cepat sekali menempel.

Dalam TCM, guilinggao memang mempunyai sejarah penggunaan untuk konsep “clearing heat” dan “removing toxins”.

Tetapi konsep tersebut tidak boleh otomatis diterjemahkan menjadi klaim biomedis bahwa guilinggao membersihkan racun dari darah atau hati.

Tubuh manusia sudah memiliki organ seperti hati dan ginjal yang menjalankan proses metabolisme dan pembuangan berbagai zat.

Belum ada bukti klinis kuat bahwa makan guilinggao akan melakukan “detoks total” seperti yang sering dijanjikan konten pemasaran.

Jadi kalau menemukan postingan “makan ini tiga hari, racun keluar semua”, skeptis sedikit justru sehat.

Apakah Guilinggao Aman Dimakan?

Sebagai produk makanan komersial yang diproduksi sesuai standar dan dikonsumsi sebagaimana mestinya, guilinggao umumnya diperlakukan sebagai makanan atau dessert herbal.

Namun komposisinya perlu menjadi perhatian.

Mengapa?

Karena guilinggao bukan satu bahan tunggal.

Ia bisa mengandung berbagai tanaman herbal.

Seseorang dapat memiliki alergi atau sensitivitas terhadap bahan tertentu.

Herbal juga bukan sinonim dari “pasti aman untuk semua orang”.

Beberapa herbal dapat mempunyai efek biologis dan berpotensi berinteraksi dengan obat.

Karena komposisi setiap merek bisa berbeda, orang yang sedang hamil, menyusui, mempunyai penyakit kronis, atau minum obat rutin sebaiknya lebih berhati-hati apabila ingin mengonsumsi produk herbal secara rutin dalam jumlah besar.

Bukan berarti satu cup guilinggao otomatis berbahaya.

Intinya adalah jangan menganggap kata “alami” sebagai jaminan bahwa tidak ada risiko sama sekali.

Bagaimana Kalau Vegetarian atau Vegan?

Ini pertanyaan penting mengingat namanya turtle jelly.

Kalau produknya benar-benar menggunakan bahan dari cangkang kura-kura, tentu produk tersebut bukan vegan.

Namun sebagaimana dijelaskan sebelumnya, versi modern tidak selalu menggunakan formula tradisional yang sama.

Ada produk yang lebih dominan menggunakan bahan tanaman dan pengental.

Karena itu jangan menyimpulkan vegan hanya berdasarkan tampilannya.

Baca label bahan.

Kalau sedang makan di restoran atau kedai herbal dan daftar bahan tidak tersedia, tanyakan langsung.

Guilinggao yang tampilannya sama persis bisa memiliki formula berbeda.

Kenapa Warnanya Hitam Mirip Cincau?

Ini juga sering membuat orang Indonesia bingung.

Dari luar, guilinggao memang bisa terlihat seperti cincau hitam.

Keduanya bahkan sama-sama sering disantap dingin dengan sirup atau susu.

Tetapi sejarah dan formula keduanya berbeda.

Cincau hitam lebih sederhana dan erat dengan tanaman cincau.

Guilinggao adalah produk herbal dengan formula yang secara tradisional lebih kompleks serta mempunyai hubungan dengan pengobatan tradisional Cina.

Rasanya pun bisa berbeda cukup jauh.

Cincau biasanya relatif netral atau sedikit herbal.

Guilinggao dapat jauh lebih pahit.

Jadi kalau melihat mangkuk hitam di restoran Cina lalu langsung menyiramkan dua sendok penuh ke mulut karena mengira cincau, bersiaplah untuk sebuah plot twist.

Cara Makan Guilinggao Biar Nggak Terlalu Pahit

Cara paling klasik adalah menambahkan madu.

Rasa manis membantu menyeimbangkan aftertaste herbal yang pahit.

Sirup gula juga sering digunakan.

Versi lebih modern bisa dikombinasikan dengan susu segar, condensed milk, santan, yogurt, atau buah.

Kalau baru mencoba untuk pertama kali, strategi paling aman justru makan sedikit dahulu tanpa topping.

Kenali rasanya.

Setelah itu baru tambahkan madu atau susu sesuai selera.

Menariknya, rasa pahit tersebut justru menjadi bagian dari identitas guilinggao.

Kalau dibuat terlalu manis, karakter herbalnya bisa hilang.

Jadi targetnya bukan membuatnya terasa seperti pudding cokelat.

Cukup membuat pahitnya bersahabat.

Jadi, Benarkah Jelly Ini Terbuat dari Kura-Kura?

Kalau pertanyaannya mengenai guilinggao tradisional, jawabannya: penggunaan cangkang bawah kura-kura memang merupakan bagian dari sejarah dan resep tradisionalnya.

Kalau pertanyaannya mengenai setiap guilinggao yang dijual sekarang, jawabannya: belum tentu.

Formula komersial bervariasi.

Beberapa produsen masih menggunakan bahan berbasis kura-kura, sementara produk lain dapat menggunakan resep yang sudah dimodifikasi.

Karena itulah daftar komposisi jauh lebih bisa dipercaya daripada menebak berdasarkan nama.

Dan satu fakta lagi yang perlu diluruskan: disebut turtle jelly bukan karena produk tersebut selalu berbentuk kura-kura.

Biasanya justru bentuknya sederhana.

Kotak.

Mangkuk.

Cup plastik.

Atau potongan seperti cincau.

Kura-kuranya berada pada sejarah nama dan formulanya, bukan harus pada cetakannya.

Dari Mangkuk Herbal ke Dessert yang Bikin Penasaran

Mungkin inilah bagian paling menarik dari jeli herbal Cina kura-kura.

Ia berdiri di tengah dua dunia.

Di satu sisi, guilinggao punya sejarah panjang sebagai makanan herbal yang terhubung dengan pengobatan tradisional Cina.

Di sisi lain, sekarang ia bisa muncul sebagai dessert dingin dengan topping susu, madu, buah, atau es krim.

Nama “turtle jelly” terdengar ekstrem.

Warnanya mungkin tidak terlalu Instagrammable.

Rasa pahitnya juga belum tentu langsung disukai.

Tetapi justru hal-hal itulah yang membuat orang penasaran.

Dan setelah mengetahui cerita di baliknya, kita juga bisa melihat guilinggao dengan lebih proporsional.

Ia bukan sekadar jelly aneh dari Cina.

Ia juga bukan ramuan ajaib yang otomatis membersihkan racun, menurunkan kolesterol, dan membuat kulit mulus.

Guilinggao adalah bagian dari tradisi kuliner sekaligus herbal Cina yang panjang, dengan resep yang terus berevolusi mengikuti zaman.

Kalau ingin mencobanya, silakan nikmati sebagai pengalaman kuliner.

Kalau tertarik dengan klaim kesehatannya, pisahkan antara penggunaan tradisional, penelitian laboratorium atau hewan, dan manfaat yang sudah benar-benar terbukti pada manusia.

Sebab makanan tradisional bisa punya sejarah menarik tanpa harus diberi klaim medis berlebihan.

Dan kalau suatu hari seseorang menyodorkan cup hitam sambil bilang, “Cobain jelly kura-kura,” setidaknya sekarang kamu sudah tahu satu hal.

Jangan langsung mencari bentuk kepala dan tempurung di dalam jelly.

Referensi

Department of Commerce of Guangxi Zhuang Autonomous Region, “Wuzhou Guilinggao”.
https://swt.gxzf.gov.cn/zt/gxtc/mpytc/t805380.shtml

China Intangible Cultural Heritage Digital Museum, “Guilinggao Preparation Technique”.
https://www.ihchina.cn/project_details/23597/

Zhang et al., “The content of astilbin and taxifolin in concentrated extracts of Rhizoma Smilacis Glabrae and turtle jelly vary significantly”, Food Chemistry.
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S0308814609009558

“Gui-ling-gao (turtle jelly), a traditional Chinese functional food, exerts anti-inflammatory effects by inhibiting iNOS and pro-inflammatory cytokine expressions in splenocytes isolated from BALB/c mice”, Journal of Functional Foods.
https://www.sciencedirect.com/science/article/abs/pii/S1756464613000066

Sham et al., “A Review on the Traditional Chinese Medicinal Herbs and Formulae with Hypolipidemic Effect”, BioMed Research International, 2014.
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/abs/10.1155/2014/925302

Ministry of Commerce of the People’s Republic of China, Chinese Time-Honored Brand Digital Museum – Guilinggao historical information.
https://lzhbwg.mofcom.gov.cn/edi_ecms_web_front/thb/detail/5e777f3449304f8eaaa4ce67ba3d7c83

Related Post